Artikel: MASALAH KEPENDUDUKAN

Judul

MASALAH KEPENDUDUKAN

Isi

Masalah Kependudukan


(Suatu Pengantar Menuju Pemahaman Komprehensif)


Oleh : Lismomon Nata, S.Pd


Dengan adanya amanat UU No. 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, kemudian dilanjutkan dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 62 tahun 2010 tentang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, maka BKKBN yang awalnya merupakan kependekan dari Badan Koordinasi dan Keluarga Berencana Nasional berubah menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Dengan arti kata saat ini BKKBN bertugas untuk melaksanakan pengendalian penduduk sekaligus menyelenggarakan keluarga berencana (pasal 56 ayat 2).


Jika kita tilik dari historisnya adanya perhatian manusia akan masalah kependudukan merupakan respon terhadap The Population Bomb (Ledakan Penduduk) 1968 Paul R. Ehlich yang meramalkan akan terjadinya bencana kemanusiaan akibat terlalu banyaknya penduduk. Disamping itu jugs diungkapkan oleh Thomas Maltus pada An Essay on the Principle of Population, 1798 yaitu tentang laju pertumbuhan ekponensial (pertumbuhan mansuia) dan akan melampaui suplai (bahan makanan) sehingga menyebabkan kelaparan. Tulisan- tulisan ini menyita banyak perhatian manusia untuk kembali memperhatikan keseimbangan penduduk lebih serius lagi guna untuk ‘mengatasi’ ramalan Ehlich dan Maltus tersebut.


Kemudian jauh setelah itu di Amerika Serikat, Margaret Sanger memperoleh pengalaman dari Saddie Sachs yang menggugurkan kandungan yang  tidak diinginkan. Kemudian Sanger menulis Family Limitation (Pembatasan Keluarga) yang merupakan tonggak permulaan sejarah berdirinya Keluarga Berencana (Planning Family) hingga Sanger membuat sebuah lembaga yang bernama Margareth Sanger Institute yang dilengkapi dengan klinik Margareth Sanger research Bureau.


Tindak lanjut daari berbagai elemen di dunia terhadap kepeulian akan keseimbangan pertumbuhan penduduk maka dilakukanlah berbagai usaha, diantaranya Kesepakatan internasional yaitu dilaksankannya Konferensi Kependudukan Dunia di Bucharest tshun 1974 dsn di Cairo tshun 1994 dengan kesepakatan  perlunya integrasi kependudukan dalam pembangunan, setelah itu  ICPD 1994 mengenai  pemberdayaan perempuan dan hak individu, dimana setiap pasangan berhak memiliki kehidupan kesehatan reproduksi yg baik, termasuk di dalamnya Keluarga Berencana.


Masalah kependudukan tentu sangat berpengaruh besar terhadap kehidupan manusia, baik berdampak terhadap perekonomian, kehidupan sosial budaya hingga berdampak terhadap lingkungan dan alam. Artinya kajian kependudukan bukan hanya mengenai masalah dalam perspektif (sudut pandang) secara kuantitatif atau hitung- hitungan berupa angka- angka terhadap jumlah populasi manusia saja namun jauh dari pada itu yaitu juga dapat dikaji dalam aspek kualitatifnya. Dengan kata lain disamping persoalan jumlah, kependudukan juga berkaitan mengenai masalah kehidupan sosial budaya yang ada di dalamnya.


Dengan demikian kependudukan dapat dipahami secara komprehensif dan utuh dalam berbagai disiplin ilmu yang ada, baik dari segi ilmu sains maupun sosial guna untuk menciptakan kehidupan manusia yang bahagia dan sejahtera. Adapun upaya yang digiatkan oleh masyarakat dunia adalah dengan mengatur tingkat pertumbuhan penduduk, di Indonesia dikenal dengan Keluarga Berencana atau KB (Planning Family). Adapun secara teoritis  aspek- aspek yang mesti diperhatikan dalam kependudukan diantaranya ada 5 (lima) aspek, yaitu pertama jumlah besarnya penduduk , kedua jumlah pertumbuhan penduduk, ketiga kelahiran (fertilitas) penduduk, keempat jumlah kematian (mortalitas) penduduk dan kelima jumlah perpindahan (migrasi) penduduk.


BKKBN sebagai lembaga Negara berkomitmen untuk menyukseskan program pemerintah ini sekaligus program dunia yaitu untuk mengatur jumlah tingkat laju pertumbuhan penduduk (mengatur ke 5 aspek kependudukan) terkhusus di Indonesia melalui program Keluarga Berencana (KB). Tentu saja program nasional ini akan dapat terwujud dengan baik dan ‘sempurna’ dengan adanya dukungan dan kerjasama antar sektoral lembaga Negara atau Kementrian yang terkait secara professional dan proporsional dan terutama sekali dukungan oleh seluruh rakyat Indonesia. Kenyataan saat sekarang ini penduduk Indonesia berada pada tingkat ke 4 (empat) terpadat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika dan apabila tidak terlaksana dan berjalannya program Keluarga Berencana dengan baik maka tidak tertutup kemungkinan untuk Indonesia menggantikan Amerika Sekikat atau India dengan posisi ke 3 (tiga) atau ke 2 (dua) terpadat di dunia dan tentu saja ini bukan harapan rakyat Indoensia semua. Oleh karena itu mari bergandeng hati dan serius untuk ber-KB

JudulInggris

 

IsiInggris

 

Kategori

BkkbN

TanggalArtikel

4/19/2011

Attachments

Created at 5/22/2012 5:15 PM by SharePoint Administrator
Last modified at 5/22/2012 5:15 PM by SharePoint Administrator