Depan > Index Artikel > Program Keluarga Berencana Dalam Perspektif Sosiologi Agama
Program Keluarga Berencana Dalam Perspektif Sosiologi Agama
Minggu, 4 Maret 2012  |  BkkbN


Program Keluarga Berencana Dalam Perspektif Sosiologi Agama (Islam)


Oleh : Lismomon Nata, S.Pd


 


“Dan hendaklah takut kepada Allah orang- orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak- anak yang lemah yang mereka khawatir (akan keselamatan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang baik (bijaksana dalam berwasiat sehingga tidak lebih dari 1/3 harta warisan). (AN NISAA’ (4) : 9).


 Agama dalam perspektif Sosiologi, didefinisikan oleh Durkheim yaitu suatu sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudus, kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal. Dari definisi ini ada dua unsur yang penting, yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama, yaitu sifat kudus dari agama dan praktek-praktek ritual dari agama. Agama tidak harus melibatkan adanya konsep mengenai suatu mahluk supranatural, tetapi agama tidak dapat melepaskan kedua unsur di atas, karena ia akan menjadi bukan agama lagi, apabila salah satu unsur tersebut tidak ada. Di sini, dapat kita lihat bahwa sesuatu itu disebut agama bukan dilihat dari substansi isinya tetapi dari bentuknya, yang melibatkan dua ciri tadi. Kita juga akan melihat nanti bahwa menurut Durkheim agama selalu memiliki hubungan dengan masyarakatnya, dan memiliki sifat yang historis. Sifat kudus yang dimaksud Durkheim dalam kaitannya dengan pembahasan agama bukanlah dalam artian yang teologis, melainkan sosiologis.


Dalam pandangan agama, pada dasarnya tidak terlepas dari pembicaraan tentang aturan (perintah dan larangan) dalam kehidupan dan menceritakan kehidupan setelah kematian. Agama Islam sebagai salah satu agama samawi, bertujuan bagaimana menuntun umatnya agar selamat baik di dunia maupun di akhirat kelak. Selamat di dunia dapat diartikan ketika kehidupan umat Islam dapat meraih kehidupan dengan baik, dapat melaksanakan ibadah, berguna bagi manusia di sekelilingnya, walaupun semuanya itu bersifat abstrak dan dapat dinilai secara subjektifitas, sedangkan selamat di akhirat kelak yaitu bagaimana umat Islam dapat redho dari Allah SWT untuk masuk ke dalam Surga-Nya.


Pada tulisan ini penulis tertarik untuk menganalisis, keterkaitan anatara Program Keluarga Berencana (KB) dengan agama, terutama pandangan Islam. Hal ini disebabkan karena salah satu dari sekian banyak program pemerintah, KB masih dianggap sebagai ‘sesuatu’ yang masih kontradiktif dan ragu- ragu (subhat). Timbulnya berbagai macam penafsiran pandangan terhadap KB, menurut hemat penulis karena masih ‘dangkalnya’ pemahaman masyarakat terhadap apa hakekat dari KB tersebut. Contohnya adalah bagaimana masyarakat secara awam memahami KB hanya sebatas penggunaan alat kontrasepsi saja (kondom, IUD, Imlpant dan Vaksetomi), padahal KB memiliki pengertian yang lebih jauh dari pada itu semua.


Secara garis besar dapat kita pahami bahwa KB adalah sebuah upaya dalam memanage atau mengatur pola kehidupan manusia mulai dari fase balita (Bina Keluarga Balita atau BKB), fase remaja (Bina Keluarga Remaja atau BKR) hingga fase lansia (Bina Keluarga Lansia atau BKL). Dengan demikian menurut pemahaman penulis, pada hakekatnya KB merupakan suatu pola kehidupan yang seirama dengan ajaran Islam. Islam memerintahkan manusia untuk berusaha dalam mencari reski, mementingkan pendidikan dan pemeliharaan anak- anak dan berupaya dalam memperbaiki hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sehingga Islam tidak menghendaki umatnya hidup dalam keadaan lemah dan dekat dengan kehinaan.


Apabila kita tilik dalam kenyataan pada saat sekarang ini, dimana laju pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi hingga diperkirakan sejak tanggal 31 Oktober 2011 yang lalu bahwa penduduk dunia telah mencapai 7 Milyar. Dimana berbagai macam kasuistik hingga timbulnya berbagai macam masalah sosial tidak terlepas dari dampak telah ‘sumpek’nya kehidupan manusia. Misalkan saja, begitu banyak manusia yang tidak berfikir panjang untuk membakar hingga bunuh diri, menjual anak, prostitusi demi sesuap nasi, hingga mengeksploitasi anak untuk menjadi pengemis pada perempatan lampu merah. Semuanya itu telah menunjukan suatu sikap eskapis (keluar dari diri) manusia.


Disamping itu program Keluaraga tentu memiliki fungsi- fungsi yang ‘mensakralkan’ terhadap upaya memperbaiki kehidupan kearah yang lebih baik, bagaimana menata kehidupan yang diawali dengan memperhatikan kesehatan bayi dan mengurangi resiko kematiannya. Dalam islam, pengaturan kelahiran telah diatur dalam kitab suci Al-qur’an. Hal ini tersirat dalam QS Al-Baqarah ayat 233.


“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 233)


Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa para ibu dianjurkan untuk menyusui selama dua tahun berturut-turut. Dan jika ingin menyapih atau menghentikan pemberian ASI pada anaknya sebelum dua tahun haruslah atas kesepakatan dengan suaminya. Aturan agama ini senada dengan anjuran dalam KB, dimana minimal jarak anak yang satu dengan yang lainnya 3 (tiga) hingga 5 (lima) tahun. Dengan harapan kebutuhan si anak, baik secara nutrisi maupun scara psikologisnya dapat terpenuhi dengan baik.


KB juga, mempertimbangkan terhadap pengurangan angka kematian ibu, dimana apabila ‘sering’ dan ‘rapatnya’ si ibu dalam melahirkan, tentu akan memiliki resiko yang lebih terhadap kematian. Dengan harapan semoga program KB merupakan aplikasi terhadap pemahaman bahwa agama mengajarkan untuk menjadikan manusia sebagai makhluk yang lebih baik dalam rangka pengabdian dan peninggian akan izzah (kemualiannya) di hadapan pencipta. Semoga.