Keluarga Era New Normal dan Sekolah Kedinasan 2020

Keluarga-keluarga  Indonesia saat ini telah menghadapi era dan situasi baru, memasuki Juni ini. Banyak hal yang telah berubah sejak corona mewabah. Mulai dari kebiasaan berkumpul beramai-ramai,  sampai kedisiplinan melalui jaga jarak harus terus digalakkan. Situasi yang tidak menentu ini akibat corona yang belum tahu kapan berakhir. Apalagi pemerintah telah mengeluarkan imbauan untuk kita sama-sama segera menuju pola kehidupan normal baru (new normal)  dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Sang anak sudah beberapa waktu terakhir sudah belajar dari rumah. Pemerintah juga telah mengeluarkan aturan, bahwa tahun ini kegiatan ujian nasional untuk menentukan kelulusan seperti tahun sebelumnya diganti dengan nilai rata-rata rapor maupun nilai dari proses belajar disekolah. Hal ini dilakukan pemerintah agar para siswa yang notabene generasi muda Indonesia bisa tetap belajar dari rumah dan meminimalisir potensi penularan wabah corona. Tentu harapan kita semua, dengan situasi sulit ditengah pandemi saat ini, semangat untuk tetap berprestasi maupun melanjutkan pendidikan harus terus dikobarkan.
William J Goode (1985) dalam Buku Bunga Rampai Sosiologi Keluarga menjelaskan bahwa keberhasilan maupun prestasi yang dicapai siswa dalam pendidikannya sungguh tidak hanya memperlihatkan mutu dari institusi pendidikan semata. Jika menelisik lebih dalam, juga memperlihatkan bagaimana “keberhasilan” keluarga dalam memberikan anak-anak mereka bekal persiapan yang baik untuk proses keberhasilan pendidikan yang sedang dijalani. Pendapat Goode tersebut tentunya amatlah mendasar. Karena hakekatnya  keluarga merupakan institusi sosial yang pasti ada dalam setiap masyarakat.

Bila berbicara tentang keluarga, Schaefer dan Lamm (1992) akan langsung menghubungkannya dengan pasangan suami istri beserta anak – anak mereka yang belum menikah, tinggal bersama dalam satu rumah. Karena bedasarkan pertalian perkawinan antara suami dengan istri, maka kehidupan keluarga sering disebut sebagai conjugal familly, namun akhir-akhir ini lebih populer dengan sebutan keluarga batih (nuclear familly). John Locke (1985) juga mengemukakan bahwa posisi pertama dalam mendidik individu terletak pada keluarga. Individu ibarat sebuah kertas yang bentuk maupun coraknya tergantung kepada orang tua (keluarga) bagaimana mengisi kertas kosong tersebut sejak bayi. Melalui pola pengasuhan yang baik, perawatan, dan pengawasan yang berkelanjutan dari keluarga maka kepribadian anak akan dibentuk secara bertahap.

Disini kita mengenal proses sosialisasi, bagaimana tiap individu menghayati, mendarah dagingkan (internalize) nilai-nilai, norma dan aturan yang dianut kelompok tempat ia hidup. Akhirnya”kertas putih” tersebut memiliki ciri khas yang unik dengan yang lain. Itu artinya ia telah memiliki seperangkat sikap, nilai, kesukaan maupun ketidaksukaan, tujuan dan maksud serta konsistensi tentang dirinya sesuai dengan latar belakang budaya keluarga asalnya. Dalam hal ini peranan vital orang tua baik menyangkut kebiasaan, nilai, budaya maupun pandangan individu mengenai pendidikan termasuk didalamnya semangat untuk mencapai sebuah prestasi.

Sedangkan menurut Orstein dan Levin (1984), persiapan yang dilakukan orang tua untuk keberhasilan pendidikan anaknya ditujukan dalam bentuk perhatian terhadap aktifitas pembelajaran anak disekolah sekaligus menekankan arti penting semangat dalam pencapaian prestasi oleh si anak. Lebih dari itu, orang tua sebagai panutan hendaknya juga perlu menghadirkan pribadi yang “sukses” dan menjadi teladan bagi sang anak. Diharapkan sosok sang ayah yang menjadi teladan bagi anak laki-lakinya dan idola bagi anak perempuannya, begitupun sebaliknya. Semua cerita tentang pembentukan karakter yang kelak mendarah daging bagi sang anak memang diukir dalam kehidupan keluarga.

Berbicara mengenai konsep kesuksesan dalam kehidupan keluarga, memang tidak bisa dilepaskan dari pengaruh pendidikan. Umumnya para orang tua menginginkan anak mereka bisa melebihi pencapaian maupun pendidikan yang pernah mereka tempuh sebelumnya. Para orang tua kita dahulunya tentu pernah berpesan bahwa nasib itu ada ditangan kita, dan harus diperjuangkan sehingga perubahan nasib adalah sebuah hadiah dari Tuhan atas kerja keras kita (achieved status). Menanamkan mindset pentingnya pendidikan dalam keluarga ibarat menanam bibit buah yang berpotensi akan dipetik buahnya suatu hari nanti.

Beberapa waktu lalu siswa siswi kelas XII SMA seluruh Indonesia merayakan kelulusan mereka. Tentu perasaan bahagia waktu itu karena berhasil lulus. Pertanyaan selanjutnya, apakah hanya puas dengan pendidikan level SMA, atau ingin mencari level kesuksesan yang lebih tinggi melalui jalur pendidikan dengan harapan bisa merubah nasib? Apabila ada yang berminat mencoba peruntungan untuk mendaftar di sekolah kedinasan, maka beruntunglah mereka yang telah ditanamkan nilai pendidikan karakter dari lingkungan keluarga untuk semangat berprestasi dan diajarkan semangat juang pantang menyerah dalam kehidupan.

Pada tahun 2020 ini pemerintah melalui Kementrian Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Birokrasi (KEMENPAN-RB) dalam surat bernomor B/435/M.SM.01.00/2020 perihal Rencana Pembukaan Pendaftaran dan Seleksi Sekolah Kedinasan Tahun 2020 telah menginformasikan kepada putra-putri terbaik bangsa untuk mengikuti seleksi penerimaan taruna maupun taruni di sekolah tinggi dimaksud. Adapun kementrian dan lembaga membuka pendaftaran pada tahun ini sesuai informasi dari surat diatas seperti, Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Perhubungan, Kementrian Hukum dan HAM, Badan Pusat Statistik, Badan Intelijen Negara, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Badan Siber dan Sandi Negara. Adapun urutan pelaksanaan kegiatan seleksi seperti : Pertama, pengumuman pendaftaran pada 1 Juni 2020. Kedua, pendaftaran di SSCASN BKN 8-23 Juni 2020. Ketiga, pelaksanaan Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) pada Juli 2020. Keempat, pelaksanaan seleksi lanjutan diatur oleh kementrian dan instansi masing-masing.

Disisi lain seperti yang dilansir CNN Indonesia menginformasikan bahwa Polri tunda seluruh kegiatan rekrutmen maupun seleksi anggota ditengah wabah corona. Keputusan itu tertuang pada Surat Telegram Kapolri Jenderal Idham Aziz bernomor ST/1105/IV/KES.7./2020 yang ditandatangani oleh Asisten Sumber Daya Manusia Polri Irjen Pol. Eko Indra Heri tertanggal 6 April 2020. Senada dengan hal ini, informasi seleksi penerimaan taruna – taruni Akademi Angkatan Darat (website : http://ad.rekrutmen-tni.mil.id/), Angkatan Laut ( website : http://al.rekrutmen-tni.mil.id/) dan Angkatan Udara (website : http://au.rekrutmen-tni.mil.id/) juga mengalami penundaan sampai batas waktu yang belum ditentukan dan akan segera diumumkan lebih lanjut. Hal ini dikarenakan pandemi corona masih menjadi ancaman terhadap keselamatan masyarakat luas, sehingga semua rekrutmen saat ini ditunda.

Nantinya semua mekanisme pelaksanaan seleksi diatas akan dilaksanakan dengan memperhatikan pedoman maupun protokol pencegahan covid – 19 yang ditetapkan oleh pemerintah. Dari informasi yang dilansir situs resmi masing-masing instansi diatas, terdapat rangkaian tes yang cukup panjang, dan memakan waktu berbulan-bulan. Ditambah lagi persaingan peserta yang kompetitif dengan standar yang transparan dan akuntabel saat ini. Maka tidak heran lulusan dari sekolah akademi kedinasan masing-masing instansi dinilai berkualitas dan terpandang dimata masyarakat. Karena bisa masuk hingga mencapai kelulusan di sebuah sekolah kedinasan adalah sebuah prestasi membanggakan dalam keluarga, maupun ditengah masyarakat disebabkan umumnya lulusan sekolah kedinasan diangkat jadi pegawai negeri sipil dan tidak jarang menjadi idaman mertua zaman now.

Lebih lanjut, prestasi seorang taruna merupakan salah satu bukti nyata keberhasilan pelaksanaan pendidikan di sekolah kedinasan masing-masing. Prestasi tersebut meliputi perolehan nilai dalam aspel mental ideologi, intelektual serta kesamaptaan jasmani. Peringkat prestasi terbaik dalam ketiga aspek tersebut memungkinkan seorang taruna mendapatkan medali Wijayakusuma Nugraha bahkan bisa mendapatkan Adhi Makayasa. Dalam menggapai prestasi dimaksud, keluarga berperan penting sebagai pemotivator, pembimbing, pendukung semangat, pemerhati, maupun pengawas bagi anak mereka yang sedang menjadi taruna di sekolah kedinasan.

Terakhir, adanya model figur (figur idola) yang ada pada sosok seorang ayah sebagai kepala keluarga dengan latar belakang profesi apapun, dipercaya merupakan salah satu motivator yang mendorong para taruna untuk mencapai prestasi istimewa dan hasil terbaik dalam pendidikan mereka. Faktor kedua yang juga mendorong para taruna untuk berprestasi adalah adanya keinginan untuk mencapai status sosial dan penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan yang telah dicapai orang tua mereka (mobilitas sosial).

 

Pengirim : Filka Khairu Pratama, S.Sos (Staf Perw. BKKBN Sumbar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *