Melindungi Ibu dan Bayi Masa Pandemi Covid-19

Pandemi covid 19 (Virus Corona) sampai pertengahan September 2020 tampaknya belum menunjukkan tanda akan berakhir. Bagaimana tidak, seperti yang diinformasikan oleh Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid 19 Wiku Adisasmito, saat ditemui di Graha BNPB pada 31 Agustus 2020 lalu menjelaskan, Angka kematian akibat Covid 19 di Indonesia mencapai 4,2 persen dari total kasus berdasarkan data hingga 31 Agustus 2020. Angka ini masih lebih tinggi dibandingkan angka kematian rata-rata dunia sebesar 3,34 persen. Keadaan ini berpotensi menjadi lebih mengkhawatirkan apabila kita tidak peduli / abai terhadap protokol kesehatan bagi semua lapisan masyarakat, terkhusus terhadap keselamatan ibu dan sang bayi dari pandemi corona.

Jika mengutip website www.siapnikah.org yang dibina langsung oleh pendiri Rumah Perubahan, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D bersama Kepala BKKBN, dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K), menginformasikan bahwa pada masa pandemi corona sebenarnya pemerintah menghimbau kepada setiap pasangan suami istri untuk menunda kehamilan, atau diharapkan jangan hamil dulu ketika masa pandemi. Hal ini juga bertujuan untuk melindungi si calon ibu maupun janin dari potensi gangguan kesehatan yang senantiasa mengancam. Meskipun demikian, apabila memang sudah hamil, pelayanan maupun perlindungan terhadap ibu hamil, ibu melahirkan, dan bayi diharapkan harus tetap maksimal. Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A.(K), saat menjadi narasumber, dalam Webinar Invent-ASI Indonesia menyampaikan, faktanya, anak adalah yang paling banyak terinfeksi bahkan meninggal akibat covid 19. Kenyataannya, yang paling banyak meninggal adalah anak dibawah 5 tahun, dibawah 1 tahun dan dibawah 1 bulan.

Artinya apa ? Apabila si anak sakit lalu dibawa ke rumah sakit, kecendrungan anak akan lebih mudah terawasi karena fasilitas kesehatan yang tersedia. Namun, ketika pulang ke rumah belum tentu aman terlindungi dari potensi penularan covid 19. dr. Aman menambahkan, pada saat pulang menuju rumah, sang ibu dan anak balita belum sepenuhnya aman dari penularan pandemi, ada kemungkinan terpapar pada saat pulang ke rumah. Komunitas sebagian belum punya kesadaran khusus untuk menjaga ibu yang melahirkan dan bayinya dari potensi penularan covid 19 yang saat ini masih meresahkan. Padahal, setelah melahirkan
Ibu memiliki tugas mulia untuk memberikan ASI (Air Susu Ibu) kepada bayinya.

dr. Aman melanjutkan, orang yang tidak mau memberikan ASI, akan kehilangan momentum selamanya. Kandungan gizi ASI sesungguhnya sangat bagus untuk memenuhi nutrisi dan bisa meningkatkan imunitas pada anak. Setidaknya ada lima hormon yang bisa didapat dalam ASI dalam mencegah stunting, seperti hormon IGF-1, Insulin, Ghrelin, Leptin, Adiponektin. Zat berharga yang seperti ini tidak ada dalam kandungan susu formula, kalau anak tidak dikasih ASI selama dua tahun diawal kelahirannya, maka hal ini akan sangat merugikan bagi si anak. Momentum ini harapannya jangan sampai terlewat, dan ibu yang dalam masa menyusui hendaknya lebih dilindungi.

Selanjutnya, dari penelitian Kementrian Kesehatan mengungkapkan bahwa anak yang lahir dengan berat badan rendah ( kurang dari 2,5 kilogram), selanjutnya diberi ASI eksluksif setelah enam bulan, berat dan tinggi badannya belum bisa kejar tumbuh. Tapi lingkar kepalanya sudah bisa kejar tumbuh karena ASI, dengan artian pembangunan milyaran sel otak tetap bisa berlanjut. Selanjutnya, pastikan juga bayi memiliki imunisasi yang lengkap dan hak tumbuh sehatnya terpenuhi dengan memberikan ASI selama dua tahun. Berikut tips melindungi ibu dan bayi dari risiko terpapar virus corona (COVID-19) dari Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A.(K), sebagai berikut :
1. Selain keluarga inti, diharapkan jangan jenguk bayi yang baru lahir. Hal ini penting untuk meminimalisir kemungkinan bayi terpapar virus yang sedang mewabah saat ini.

Selanjutnya langkah diatas dinilai ampuh untuk menelusuri riwayat perjalanan orang yang menjenguk, dan juga sebagai upaya memastikan keluarga inti aman dari risiko sebagai pembawa virus corona yang senantiasa mengancam setiap saat. 2. Diharapkan jangan mencium-cium bayi. Ciuman kepada bayi disimbolkan sebagai wujud cinta kasih kepada anak. Namun saat ini kita perlu ingat bahwa, ada hal yang lebih penting yang perlu kita jaga terkait kesehatan si bayi, yang masih rentan dari ancaman virus.

3. Ibu dalam masa menyusui sebaiknya mengurangi intensitas keluar rumah, apabila tidak terlalu mendesak dan penting. Sebisa mungkin, tetaplah dirumah supaya meminimalisir risiko terpapar virus yang berpotensi setiap saat menularkan kepada si bayi. 4. Apabila keluar rumah, sangat dianjurkan untuk patuhi protokol kesehatan. Misalnya, apabila suami pergi bekerja gunakanlah masker dengan benar, rajin cuci tangan dan segerakan mandi ketika sampai dirumah saat pulang kerja. Disarankan, jangan menyentuh anak istri ketika belum mandi sepulang bekerja, karena ini rentan terhadap penyebaran virus penyakit.

Semua langkah diatas kedengarannya merupakan hal yang sepele namun sering lalai untuk diterapkan. Melindungi anggota keluarga, terutama anak dari bahaya pandemi perlu dilakukan. Mengingat, anak merupakan harta dan pemberian Tuhan yang sangat berharga serta harapan masa depan bangsa. Pada 2045 nanti, anak-anak saat ini akan memasuki usia dewasa dan harus dipersiapkan dari detik ini untuk menjadi pemimpin serta diajarkan cara berjuang untuk memenangi ketatnya persaingan hidup.

Terkait upaya menciptakan generasi emas sejak awal kehidupan, Kepala BKKBN DR. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG(K) menambahkan bahwa, setiap ibu seharusnya sadar pentingnya ASI. BKKBN telah memberikan dukungan penuh untuk kegiatan penyuluhan tentang pentingnya pemenuhan kebutuhan ASI ekslusif dan MPASI (Makanan Pendamping ASI) termasuk dimasa pandemi Corona ini. Pada periode menyusui, terjadi ketidaksuburan. Hal ini luar biasa bahwa untuk kontrasepsi bisa dengan ASI dalam upaya menjarakkan kelahiran. Kalau kelahiran sudah dijarakkan (minimal 3 tahun), akan memperkecil risiko terjadinya autisme. Hal ini dikarenakan nutrisi anak terpenuhi selama awal kelahiran, sehingga manfaat ASI juga sangat besar terhadap pencegahan stunting.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Sumatera Barat Ir. Hj. Etna Estelita, M.Si saat menjadi narasumber acara Pro PN Sosialisasi 1000 Hari Pertama Kehidupan saat di Pasaman pada 24 Agustus 2020 silam menyampaikan pola pengasuhan pada 1000 hari pertama sangat penting dilakukan, karena pada masa tersebut sering disebut sebagai golden period (periode emas) dalam tumbuh kembang anak. Periode 1000 hari pertama kehidupan dimulai dari masa kehamilan sampai anak berumur dua tahun. Peran orang tua dalam mengawal dan memenuhi asupan gizi anak sangatlah diperlukan, termasuk pada masa pandemi ini.

Pada kesempatan yang sama Kabid. Kesmas Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Safwan, SKM, M.Kes menyampaikan bahwa saat hamil penting dilakukan pemantauan terhadap kondisi ibu hamil, termasuk ke porsi makannya. Berikut pedoman dalam menentukan porsi makanan untuk ibu hamil, seperti : pertama, 50% dari porsi makanan setiap kali makan adalah sayur dan buah. Kedua, 50% lagi adalah makanan pokok dengan lauk pauk. Ketiga, porsi sayur lebih banyak dari porsi buah. Keempat, porsi makanan pokok lebih banyak dari porsi lauk pauk. Kelima, disarankan minum air putih setiap kali makan.

Terakhir, DR. Helmizar, SKM, M.Biomed dari Ahli Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Unand memaparkan, kondisi stunting atau tumbuh kerdil sebenarnya adalah gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama dalam rentang 1000 hari pertama kehidupan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan guna mencegah stunting pada 1000 hari pertama kehidupan seperti : pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil, inisiasi menyusui dini (IMD) yaitu proses menyusui bayi segera setelah dilahirkan, berikan ASI ekslusif dan MP-ASI, memastikan ketersediaan air bersih dan sanitasi yang sehat serta memantau tumbuh kembang balita yang rutin di posyandu, dengan mengutamakan protokol kesehatan maupun saran dari tim medis setempat.

 

Dari : Filka Khairu Pratama