MEMBANGUN NARASI POSITIF DI TENGAH PANDEMIK CORONA

“Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan.” (Ibnu Sina, Bapak Kedokteran Modern).

Seiring semakin masifnya penyebaran wabah corona, khususnya di tanah air. Bermula tanggal 2 Maret 2020, Presiden Jokowi didampingi Menteri Kesehatan mengumumkan kasus pertama positif corona di Indonesia. Setelahnya, setiap hari pemerintah terus mengumumkan perkembangan informasi, baik wilayah penyebaran maupun jumlah penderita yang baru terpapar, sembuh dan meninggal dunia.

Namun, sangat disayangkan, di tengah kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan infomasi yang benar. Ternyata ada saja pihak yang menyebar informasi bohong, pesan ketakutan dan pesimistis. Sehingga, akibat informasi yang salah tersebut menimbulkan keresahan dan kepanikan di tengah masyarakat. Padahal salah satu upaya untuk mencegah terpapar corona tersebut adalah dengan menjaga dan meningkatkan imunitas tubuh, karena sampai saat ini belum ditemukannya obat atau vaksin.

Jika imunitas tubuh dapat dijaga dengan baik, kemungkinan akan terpapar corona sangat kecil. Seandainya pun telah terpapar, maka imunitas yang kuat akan mampu mengalahkan virus tersebut. Oleh karena itu, salah satu upaya dalam mempertahankan serta meningkatkan imunitas tubuh tersebut adalah dengan menjaga kondisi mental agar tetap stabil. Caranya dengan menghindari kepanikan atau stres, serta istirahat yang cukup.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada jurnal Leukocyte Biology menyebutkan bahwa jenis stres tertentu dapat berinteraksi dengan sel kekebalan tubuh yang merespon sel alergen hingga menimbulkan gejala fisik. Semua itu akibat dilepaskannya hormon kortisol yang berfungsi menghambat pelepasan histamin dan respon peradangan untuk melawan zat asing. Sehingga, seseorang yang mengalami stres kronis akan lebih rentan terpapar penyakit. Begitu juga dengan orang yang sedang menderita sakit, akan menghambat proses penyembuhan, bahkan akan semakin memperburuk kondisi yang bersangkutan.

Saatnya narasi positif disampaikan kepada masyarakat. Hentikan penyebaran hoaks. Upaya tersebut tentunya tidak mungkin dilakukan oleh pemerintah saja, namun perlu dukungan dan partisipasi semua pihak. Selain melalui media konvensional seperti televisi, radio dan surat kabar, yang tidak kalah penting adalah melalui media online dan media  sosial.

Segera hentikan menyampaikan pernyataan jika kita tidak memiliki kapasitas dan kewenangan tentang hal tersebut. Begitu juga dalam melakukan posting dan sharing berita atau informasi di media sosial, hendaknya lebih selektif. Segera hentikan pesan pesimistis yang menyebabkan ketakutan dan kepanikan berlebihan di tengah masyarakat. Jangan menyebarkan berita yang tidak jelas sumber dan kebenarannya, saat diminta untuk klarifikasi kita tidak mampu menjelaskan dan mempertanggung jawabkannya. Sehingga, kemungkinan terburuk kita akan berurusan dengan hukum akibat terjerat Undang Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

Misalnya ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa Nomor 14 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Ibadah bagi umat Islam saat wabah Corona ini. Secara umum maksud dari fatwa tersebut adalah agar masyarakat muslim menghindari penyebaran corona. Diantara upaya yang difatwakan adalah agar dalam kondisi penyebaran corona tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan salat jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan salat zuhur di tempat masing-masing. Demikian juga dengan salat berjamaah lima waktu di mesjid dialihkan pelaksanaannya di rumah masing-masing.

Namun, menyikapi fatwa MUI terutama dua point tersebut, banyak pernyataan menentang dan mencoba membenturkan dengan dalil yang dicari-cari. Seperti membandingkan takut corona dengan takut kepada Allah. Mereka menganggap tidak ada alasan meniadakan salat jumat dan menggantinya dengan salat zuhur di tempat masing-masing, karena salat jumat adalah perintah wajib dari Allah. Begitu juga dengan halat berjamaah di mesjid. Jika itu dilakukan, maka umat Islam lebih takut kepada virus corona daripada takut kepada Allah.

Padahal dalam mengeluarkan sebuah fatwa, MUI telah melakukan tinjauan dan pertimbangan dari berbagai aspek serta kajian dari berbagai keilmuan. Mereka adalah para ulama yang memiliki kompetensi dan kredibilitas. Mereka sadar betul akan besarnya tanggung jawab di hadapan Allah terkait fatwa yang dikeluarkan. Sementara pihak yang mengeluarkan pernyataan tersebut tidak memiliki kapasitas dan keilmuan agama yang cukup. Bahkan yang sangat disayangkan adalah orang-orang tersebut sengaja melakukan itu demi mencari dan meningkatkan popularitas.

Selanjutnya mari kita membangun semangat dan optimistis di tengah masyarakat dalam menghadapi pandemik corona ini. Selain menghentikan penyebaran berita bohong dan pesimistis tersebut, mulailah dengan memposting dan sharing informasi positif. Berita-berita yang memberikan harapan dan penguat bagi masyarakat, terutama bagi keluarga dan orang yang sedang menjalani perawatan karena telah terpapar virus tersebut.

Diantara narasi positif tersebut, umpamanya adalah konten berita yang mengabarkan bahwa semua pasien positif corona di Kota Malang dinyatakan sembuh. Kakek usia 101 tahun di Italia dinyatakan berhasil sembuh dari virus corona. Pasien positif corona di RSUP Persahabatan terus turun. Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana berhasil sembuh dari virus corona. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan kemungkinan sembuh dari corona mencapai 97 persen. Ilmuwan peraih nobel prediksi wabah corona segera berakhir. Serta masih banyak lagi informasi dan narasi positif lainnya yang dapat disampaikan. Sehingga, dapat membangun optimistis bangsa ini untuk segera pulih dari pandemik corona ini.

 

Oleh : Ahmad Fasni, S.SosI

(Ketua Umum Ikatan Penyuluh KB Sumatera Barat)

HP/WA : 081267619579