MENDAMPINGI ANAK SELAMA COVID-19

Setiap saat media terus menyampaikan informasi terkait penyebaran pandemik korona yang semakin luas, dengan korban yang terus bertambah. Kemudian beredarnya banyak infomasi yang salah, narasi yang semakin menimbulkan kegelisahan dan ketakutan di tengah masyarakat. Sehingga, keadaan terasa semakin mencekam dan menakutkan.

Benar saja, banyak orang panik, gelisah bahkan sampai pada tingkat stres menghadapi situasi saat ini. Ada yang memborong Alat Pelindung Diri (APD) yang seharusnya kebutuhan tenaga medis dalam menangani pasien di fasilitas kesehatan. Akibatnya tenaga medis kekurangan APD, sehingga sangat rentan terpapar. Kemudian, ada yang memborong sembako dan kebutuhan harian lainnya dengan jumlah yang sudah di luar kewajaran.

Kondisi tersebut sebenarnya tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya akan semakin memperburuk keadaan. Karena, seperti diketahui bahwa hingga saat ini belum ada vaksin atau obat yang dapat menyembuhkan dari virus tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan imunitas tubuh untuk menghadapinya. Salah satu upaya untuk menjaga dan meningkatkan imunitas dengan selalu berfikir positif. Menghindari panik dan stres yang berlebihan.

Jika kegelisahan dan kepanikan terus terjadi, maka yang paling rentan merasakan dampaknya adalah anak-anak. Akibatnya bagi anak tidak hanya saat ini, namun jika anak telah mengalami stres akibat kondisi tersebut maka akan menimbulkan dampak jangka panjang. Bisa saja mereka akan mengalami gangguan dalam proses tumbuh-kembangnya. Terutama pada perkembangan mental dan psikis anak. Oleh karena itu, pada situasi saat ini anak harus mendapatkan perlakukan atau perhatian khusus dari orang terdekat terutama orangtua.

Orangtua harus memahami bahwa kebutuhan pokok setiap anak ada empat macam. Pertama, kebutuhan fisik seperti makanan, pakaian, tempat tinggal dan lainnya. Kedua, kebutuhan psikologis seperti rasa aman, kasih sayang, dicintai, dihargai, diakui, dan sebagainya. Ketiga, kebutuhan akan pendidikan atau pembelajaran. Keempat, kebutuhan aktualisasi diri. Dalam situasi saat ini, orangtua harus tetap mengupayakan terpenuhinya kebutuhan anak tersebut.

Porsi Belajar yang Wajar

Walaupun belajar adalah kebutuhan pokok anak. Namun, pada kondisi saat ini porsi belajar anak tidak dapat disamakan dengan hari biasa. Tenaga pendidik dan orangtua harus memahami hal ini. Saat ini banyak keluhan, terutama dari orangtua tentang banyaknya tugas yang diberikan kepada anak didik dengan diberlakukannya kebijakan pengalihan belajar dari sekolah ke rumah. Tugas-tugas tersebut sangat memberatkan bagi anak, sehingga akan berpeluang menimbulkan kecemasan dan stress. Akibatnya akan dapat menimbulkan berkurangnya imunitas anak. Sehingga akan rentan terpapar oleh covid-19 tersebut.

Tenaga pendidik harus memahami bahwa fitrah anak-anak adalah saat dia lapar dia akan mencari makanan, saat haus dia akan minum, saat mengantuk dia akan tidur. Maka begitu juga saat dia ingin tahu tentang sesuatu maka dia akan belajar. Anak yang mengetahui kebutuhannya untuk belajar, tanpa diminta pun dia akan belajar dan tertantang mencari tau tentang berbagai hal. Tanpa tugas banyak dari guru atau tanpa kehadiran ayah bunda secara fisik pun, mereka akan menikmati belajar. Seperti anak yang kehausan dan ingin mereguk minuman untuk melepas dahaganya.

Jika ada anak yang enggan untuk belajar, bisa jadi karena target pembelajaran tidak berhasil menjawab kebutuhannya. Salah satunya karena target pembelajaran terlalu tinggi baginya sehingga ia tertekan/frustrasi. Karena itu, pada situasi saat ini seorang guru harus mampu membuat target pembelajaran yang realistis sesuai kebutuhan anak seusianya. Berikan anak kesempatan untuk beradaptasi dengan metode yang baru tersebut.

Diskusikan bersama orangtua mengenai hal ini, walaupun lewat media sosial. Begitu juga dengan orangtua, pada situasi saat ini hendaklah orangtua menurunkan ekspektasi berlebihan terhadap anak. Berpikir dan berharap agar semua hal harus ideal termasuk peningkatan prestasi atau kemampuan akademis anak adalah hal yang akan sangat melelahkan fisik maupun jiwa.

Orangtua bersama anak agar membuat kesepakatan kapan dia belajar mandiri, kapan ditemani. Selanjutnya apa yang harus dilakukan jika ternyata tidak sesuai rencana, tugas tidak selesai, dan lain lain. Termasuk konsekuensi yang mungkin akan dihadapi. Ini adalah golden moment bagi orangtua dan anak untuk sama-sama belajar mengenai membuat pilihan-pilihan dan kemudian bertanggungjawab terhadap konsekuensi.

Perhatikan Asupan Anak

Disamping mengendalikan steres anak, asupan atau nutrisi anak juga tidak kalah penting untuk diperhatikan saat ini. Makanan yang seimbang dan gizi yang cukup sangat besar manfaatnya dalam menjaga dan meningkatkan imunitas anak. Orangtua harus mampu memastikan semua itu diperoleh oleh anak.

Bagi anak yang selama ini terbiasa jajan di luar dan sangat sulit untuk disuruh makan di rumah. Merupakan tantangan tersendiri yang harus dihadapi orangtua. Secara bertahap pola tersebut harus segera dirubah. Upayakan dengan berbagai cara agar anak merasa lebih menarik untuk makan di rumah. Sehingga orangtua akan lebih mudah memantau dan memastikan kehigienisan serta terpenuhinya nutrisi yang dibutuhkan anak dalam menjaga imunitasnya.

Istirahat yang Cukup

Untuk menjaga imunitas anak, selain mengatur porsi belajar untuk menghindari stres dan terpenuhinya nutrisi. Hal yang tidak kalah penting adalah istirahat yang cukup. Anak yang biasanya tidak memiliki jadwal istirahat yang teratur, maka saat ini orangtua harus segera membuat kesepakatan dengan anak. Kapan anak belajar, bermain dan intirahat. Orangtua dan anak harus konsisten dengan kesepakatan tersebut. Sehingga dengan demikian anak akan memiliki waktu istirahat yang cukup sesuai dengan kebutuhannya.

 

Oleh : Ahmad Fasni, S.SosI

(Ketua Umum Ikatan Penyuluh KB Sumbar)