SOCIAL DISTANCING BERBASIS KOMUNITAS

Salah satu keunikan sekaligus modal besar bangsa ini adalah keanekaragaman atau kemajemukan. Salah satunya adalah banyak terdapat komunitas atau kelompok sosial. Jika dihitung mungkin mencapai ribuan bahkan lebih. Tidak hanya komunitas formal yang memiliki legalitas atau berbadan hukum berupa organisasi kemasyarakatan (Ormas), organisasi sosial (Orsos), organisasi politik (Orpol), organisasi profesi atau karir. Namun, juga banyak komunitas sosial non formal, ada yang menyebut komunitas mereka sebagai geng, grup, asosiasi, persatuan, perhimpunan, perkumpulan dan sebagainya.

Tidak cukup itu saja, dengan perkembangan teknologi informasi saat ini turut mempermudah terbentuknya komunitas sosial. Berbagai aplikasi media sosial telah menyediakan fitur grup atau kelompok. Sehingga seseorang bisa saja hampir di setiap platform media sosial di smartphone nya tergabung dalam berbagai grup, seperti grup alumni, mulai dari alumni pendidikan dini hingga grup alumni pendidikan tertinggi.

Banyak ahli ilmu sosial mendefinisikan komunitas sosial maupun latar belakang terbentuknya sebuah komunitas sosial tersebut. Diantaranya, menurut Kertajaya Hermawan (2008), komunitas sosial merupakan sekelompok orang yang saling peduli satu sama lain lebih dari yang seharusnya, dimana dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar para anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan interest atau values. Sementara itu Gusfield (1975) menjelaskan latarbelakang terbentuknya sebuah komunitas sosial. Dia membagi penggunaan arti komunitas yang berbeda menjadi dua kategori, pertama merujuk pada persamaaan lokasi geografi atau teritori. Persamaan ini muncul dari adanya perasaan memiliki wilayah tempat tinggal yang sama. Kategori yang kedua terdiri dari komunitas yang terbentuk dikarenakan oleh persamaan minat ataupun hobi dari para anggotanya yang tidak terlalu peduli akan wilayah tempat tinggal.

Menghadapi situasi saat ini, yaitu semakin cepatnya penyebaran pandemik corona di negara ini, angka penderita yang semakin bertambah begitu juga dengan korban meninggal. Berdasarkan update data per 25 Maret 2020, angka penderita positif corona telah mencapai 790 orang, meninggal dunia 58 orang. Sementara wilayah penyebarannya telah mencapai 24 provinsi.

Pemerintah, baik pusat mapun daerah telah mengambil langkah social distancing sebagai upaya dalam memutus rantai penyebarannya. Beberapa waktu lalu Presiden telah mengumumkan upaya social distancing tersebut agar sekolah, bekerja dan ibadah hendaknya dilakukan di rumah. Menindaklanjuti himbauan tersebut, mulai dari kementerian dan lembaga pusat hingga pemerintah daerah provinsi sampai kabupaten/kota pada umumnya telah mengeluarkan surat edaran sekaitan dengan upaya pencegahan dan memutus rantai penyebaran virus corona. Bahkan Kapolri Jendral Idham Aziz juga telah mengeluarkan maklumat Kapolri Nomor Mak/2/III/2020 yang mengintruksikan kepada jajaran kepolisian di seluruh Indonesia agar mengerahkan pasukannya guna menindaklanjuti arahan presiden terbut.

Dalam maklumat tersebut Kapolri meminta agar masyarakat tidak mengadakan kegiatan sosial yang melibatkan banyak orang atau massa dalam jumlah banyak, baik di tempat umum maupun di lingkungan sendiri. Kegiatan yang dimaksud dapat berupa pertemuan sosial, budaya dan keagamaan seperti seminar, lokakarya, sarasehan, konser musik, festival, bazar, pasar malam, pameran, resepsi, iven olahraga, kesenian, hiburan dan sebagainya.

Selain itu beberapa Universitas juga telah menerapkan perkuliahan jarak jauh. Misalnya  Universitas Indonesia (UI) telah mulai mengganti cara pembelajaran dari tatap muka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk beberapa Fakultas. Begitu juga untuk tingkat SD, SMP dan SMA, juga telah menerapkan belajar di rumah. Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim juga telah mengumumkan pembatalan pelaksanaan ujian nasional pada semua jenjang dan diganti dengan ujian sekolah. Walaupun diganti dengan ujian sekolah, namun tetap tidak diperbolehkan mengumpulkan siswa di sekolah.

Tidak terkecuali di Sumatera Barat, Gubernur telah mengeluarkan himbauan kepada instansi pemerintah maupun swasta untuk tidak mengadakan kegiatan yang bersifat mengumpulkan massa dalam jumlah banyak dan jarak dekat. Bahkan Gubernur dan beberapa Bupati/Walikota telah mengeluarkan edaran bagi ASN non eselon dan dengan kondisi serta batas umur tertentu untuk bekerja di rumah (work from home).

Namun, kenyataan yang terjadi sungguh mengherankan. Terlepas dari keperluan mendesak dan keharusan untuk beraktifitas di luar rumah. Namun masih banyak warga masyarakat yang tidak memiliki alasan kuat atau kebutuhan mendesak tidak menghiraukan himbauan tersebut. Walaupun aktifitas kampus, sekolah, kerja dan ibadah dialihkan ke rumah masing-masing, namun masih saja banyak pelajar, mahasiswa dan masyarakat yang keluyuran ke tempat wisata, hiburan, game, warnet dan sebagainya. Mereka terkesan cuek atau tidak mengindahkan himbauan yang disampaikan oleh berbagai pihak tersebut.

Disamping perlunya pemikiran untuk mengeluarkan strategi struktural melalui regulasi yang tegas sekaitan pentingnya langkah social distancing, namun dengan banyaknya komunitas sosial di masyarakat maupun di media sosial dapat dijadikan opsi untuk berhasilnya upaya tersebut. Diharapkan kepada masing-masing komunitas sosial tersebut melakukan pengawasan kepada setiap anggotanya. Jika ada seorang anggota komunitas dicurigai suspek corona, diharuskan untuk melakukan isolasi diri, maka anggota yang lain dapat membantu dan mengawasi. Sehingga setiap komunitas dapat memantau kondisi anggotanya serta menerapkan social distancing pada setiap komunitas sosial. Jika upaya tersebut telah dilakukan oleh setiap komunitas sosial, maka sangat mungkin sekali dapat memutus rantai penyebaran pandemik corona. Semoga.

 

Oleh : Ahmad Fasni, S.Sos.I

(Ketua Umum Ikatan Penyuluh KB Sumbar)