Mengenal Sekolah Siaga Kependudukan

Oleh : Ahmad Fasni, S.SosI

(Penyuluh KB Ahli Muda BKKBN Sumbar)

Sangat jauh panggang dari api bila Membayangkan sekolah siaga kependudukan tersebut adalah dengan membuatmata pelajaran tersendiri yang khusus mengajarkan tentang kependudukan, atau membentuk sebuah jurusan kependudukan apalagi membayangkan membangun sebuah lembaga pendidikan atau sekolah yang khusus mengajarkan semua hal yang berkaitan dengan kependudukan.

Namun, sekolah siaga kependudukan adalah sebuah upaya untuk mengintegrasikan pendidikan kependudukan dan keluarga berencana dalam mata pelajaran yang relevan seperti geografi, ekonomi, biologi, sosiologi bahasa indonesia, bahasa inggris, pendidikan jasmani dan kesehatan, bimbingan konseling dan sebagainya.

Pada proses pembelajarannya di sekolah siaga kependudukan tersebut nantinya akan dilakukan praktek ke lapangan seperti akan dilakukan kunjungan oleh para siswa ke kegiatan posyandu, wawancara dengan ibu hamil, kunjungan ke balai penyuluhan KB kecamatan, berinteraksi dengan melakukan proses belajar mengajar bersama tenaga medis. Disamping mengintegrasikan pendidikan kependudukan dan praktek lapangan tersebut juga dengan membentuk pojok kependudukan.

Pojok kependudukan tersebut berfungsi sebagai pusat informasi dan konseling masalah kependudukan dan kesehatan reproduksi bagi siswa. Oleh karena itu pada pojok kependudukan tersebut harus dilengkapi dengan data, seperti foto, peta, grafik dan ornamen kependudukan lainnya.

Peta dan grafik kependudukan bisa seperti persebaran penduduk di kabupaten atau kota yang bersangkutan, pertumbuhan, kepadatan, usia, tingkat kesertaan dalam program keluarga berencana, komposisi ,angka kematian ibu, angka kematian bayi, dan sebagainya.

Kemudian ornamen kependudukan lainnya dapat berupa brosur, buletin, majalah, spanduk, banner, film kependudukan, lagu-lagu motivasi kependudukan, buku referensi dan sebagainya.

Lalu muncul pertanyaan, kenapa akhir-akhir ini muncul program sekolah siaga kependudukan ini, apa pula pentingnya bagi para pelajar atau anak remaja?

Pertanyaan seperti itu dapat dijawab, dimana isu yang paling dominan saat ini di bidang kependudukan khususnya di Indonesia adalah bonus demografi. Dari berbagai data dan perhitungan banyak ahli kependudukan yang memperkirakan bahwa puncak windows of opportunity tersebut akan terjadi sekitar tahun 2020 sampai 2030. Pada masa itu jumlah penduduk usia angkatan kerja di Indonesia yaitu umur 15 sampai 64 tahun akan mencapai 70 persen dari keseluruhan penduduk Indonesia, sedangkan 30 persen lainnya adalah penduduk usia non produktif dengan usia dibawah 15 tahun dan diatas 65 tahun.

Jumlah tersebut dapat diperkirakan yaitu sekitar 180 juta penduduk usia produktif, sementara penduduk usia non produktif sekitar 60 juta jiwa saja.

Inilah tantangan yang cukup berat bagi pemerintah dalam memberdayakan penduduk usia produktif dalam menghadapi bonus demografi tersebut. Karena tidak semua negara akan mendapatkan masa bonus demografi ini, dan keadaan itu diprediksi hanya akan terjadi satu kali saja sepanjang sejarah bangsa Indonesia ini.

Disebut windows of opportunity, karena usia remaja bagi seseorang itu adalah masa yang sangat rentan. Disamping sedang berupaya untuk menemukan jati dirinya, dia juga harus dihadapkan kepada berbagai  tantangan yang datang dari luar. Tantangan tersebut bisa datang dari teman pergaulan, lingkungan tempat tinggal, media massa atau media sosial.

Melihat kenyataan yang terjadi saat ini, setiap hari ada saja peristiwa kejahatan yang melibatkan remaja, baik sebagai korban maupun sebagai pelaku. Peristiwa tersebut seakan menjadi pemberitaan rutin dari media massa.

Jika kondisi tersebut tidak segera diatasi, maka Indonesia emas yang dicita-citakan melalui anugerah bonus demografi tersebut akan sulit untuk diwujudkan. Bahkan mungkin yang akan terjadi malah sebaliknya, tingginya angka usia produktif tersebut bisa menjadi ancaman serius yang berkontribusi terhadap tingginya angka kejahatan dan kriminalitas. Hal tersebut tentunya akibat banyaknya remaja dan pemuda yang putus sekolah, pengangguran, kurang kreatif dan tidak mampu berinovasi untuk menciptakan peluang usaha baru.

Oleh karena itu melalui program sekolah siaga kependudukan ini peluang melalui bonus demografi tersebut akan dapat diraih. Setidaknya ada tiga hasil yang diharapkan melalui program tersebut. Pertama, tumbuhnya kesadaran dari para siswa atau remaja akan kondisi kependudukan di wilayah tempat tinggal masing-masing. Kedua, semakin tumbuhnya sikap bertanggung jawab dan perilaku adaptif berkaitan dengan dinamika kependudukan, dan Ketiga, adanya sikap yang tepat dalam mengambil keputusan untuk mengatasi masalah-masalah kependudukan kelak ketika mereka menjadi orang dewasa.