Peningkatan Angka TFR di Sumbar Dipicu Turunnya Pemakaian Alat Kontrasepsi Modern

Jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh wanita selama masa usai subur (umur 15-49 tahun) atau yang dikenal dengan sebutan TFR (Total Fertility Rate) mengalami peningkatan di Provinsi Sumatera Barat.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sumbar mencatat pada tahun 2019 hasil SKAP TFR-nya diangka 2,68 di Sumbar, sedangkan nasional diangka 2,45.

“Ini mengalami kenaikan dibanding tahun 2017 sebesar 2,5 bedasarkan hasil SDKI TFR kita. Sedangkan untuk tahun 2020 ini kita pasang target diangka 2.24,” ujar Kepala BKKBN Sumbar, Etna Estelita saat membuka acara pertemuan ‘Evaluasi Pengendalian Program dan Anggaran Tingkat Provinsi dalam Rangka Pra Rakorda Program BanggaKencana Provinsi Sumbar 2020’, Rabu (4/3/2020) di Padang.

Secara global, TFR sebesar 2,1 merupakan angka standar capaian ideal bagi seluruh negara dalam pertumbuhan penduduk seimbang. Ini artinya diperlukan kerja keras dan kerja bersama dalam menurunkan angka TFR di Sumbar sebut Etna.

Etna mengatakan, salah satu faktor penyebab meningkatnya TFR di tahun 2019 dikarenakan pemakaian alat kontrasepsi yang menurun di Sumbar.

“Pemakaian alat kontrasepsi Modern (mCPR) di Sumatera Barat tahun 2019 menurut hasil SKAP diangka 47,97, menurun dibandingkan tahun 2018 yaitu 48,3. Sedangkan target tahun 2020 ini adalah 54,44,” sebut Etna.

Etna menjelaskan bahwa dengan rendahnya mCPR akan berdampak meningkatnya TFR.

“Untuk itu perlu kita tingkatkan pemakaian alat kontrasepsi modern di Sumatera Barat karena dianggap lebih efektif,” harap Etna.

Sementara untuk program pendewasaan usia perkawinan, BKKBN Sumbar akan terus menggiatkannya dengan Program GenRe.

“Dari hasil SKAP 2019 ASFR 15-19 tahun diangka 18, angka ini cukup baik dibandingkan angka nasional yang masih 33. Ini akan terus kita turunkan sesuai target tahun 2020 yaitu diangka 15,” terang Etna.

Sementara, Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit yang kersempatan hadir dalam acara tersebut mengatakan, dalam menurunkan angka TFR ditahun 2020 kembali keangka nsional sebesar 2,45 diperlukan koordinasi di setiap kabupaten dan kota di Sumbar.

“Untuk itu perlu seluruh kepala kantor KB kabupaten/kota koordinasi dengan kesehatan, bicara dengan dokter kebidanan, bicara dengan bidan yang melahirkan, dan upayakan sosialisasi setiap ibu yang melahirkan untuk ber-KB,” kata Nasrul Abit.

“Komunikasi juga dengan kemenag, bagaimana nasehat perkawinan juga disampaikan bagaimana mengatur kelahiran. Melalui para ustadz dan ustadzah kita juga disampaikan. Orang pada umunya sudah tau bagaimana pentingnya ber-KB, namun kebanyakkan lupa, kita perlu mengingatkan kembali.”

“Tapi ingat, kita tidak memaksa orang untuk ber-KB, tapi kesadaran saja, bahwa banyak anak banyak rezeki itu sekarang sudah ketinggalan zaman. Intinya bagaimana mereka mengatur merencanakan keluarga bahagia dan sejahtera,” sambung Wakil Gubernur Sumbar itu.

 

Sumber : https://covesia.com